Anda disini : TOP >> cerita >> kisah ungkapan hati seorang ibu terhadap anaknya
kisah ungkapan hati seorang ibu terhadap anaknya
eramuslim - Nak, jauh sebelum kau hadir dalam kehidupan ayah dan ibu,kami senantiasa bermohon kepada Allah Swt agar dikaruniai keturunanyang sholeh dan sholihah, yang taat kepada Allah, berbakti kepada orangtua, rajin beribadah dan belajar, serta dapat menjadi penerus dakwahIlallaah.
Banyak rencana yang kami rancang, agar kelak bila kauhadir, kami sudah siap menjadi orang tua yang baik dan mampu mendidikmudengan didikan yang sesuai dengan dinnul Islam, tuntunan kita sepertiyang dicontohkan oleh Rosulullah Saw kepada kita.
Ayah dan Ibuingin, kelak bila Allah mengamanahkan kepada kami seorang putri, makadia akan berakhlaq seperti akhlaqnya Fatimah putri Rasulullah, dan bilaAllah mengamanahkan seorang putra, maka dia akan seperti Ali.
Setelahtanda kehadiranmu mulai tampak, Ibu sering mual, muntah-muntah, sakitkepala dan sering mau pingsan, Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah ataskarunia-Nya, kami menjagamu sepenuh hati, serta senantiasa berharap,kelak kau lahir sebagai anak yang sehat, sempurna dan menyenangkan.
Sejakdalam rahim, kami mencoba menanamkan kalimat-kalimat tauhid kepadamudan berupaya mengenalkanmu kepada Sang Pencipta, dengan bacaanayat-ayat suci-Nya, dengan senandung-senandung shalawat Nabi, dengannasyid-nasyid yang membangkitkan semangat da'wah dan rasa keimanankepada Allah yang Esa.
Saat kau akan lahir, Ibu merasakan sakit yangamat sangat, seolah berada antara hidup dan mati, namun Ibu tidakmengeluh dan putus asa, karena bayangan kehadiranmu lebih Ibu rindukandibanding dengan rasa sakit yang Ibu rasakan. Ibu tak henti-hentinyaberdo' a, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allah. Ayahpun tidaktidur beberapa malam untuk memastikan kehadiranmu, menemani danmenguatkan Ibu, agar sanggup melahirkanmu dengan sempurna. Bacaandzikir dan istighfar, mengiringi kelahiranmu.
Begitu kau lahir,sungguh rasa sakit yang amat sangat sudah terlupakan begitu saja.Setelah tangismu terdengar, seolah kebahagiaan hari itu hanya milik Ibudan Ayah. Air mata yang tadinya hampir tak henti mengalir karenamenahan sakit, berganti menjadi senyum bahagia menyambut kelahiranmu.Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah Swt, kemudian Ayah melantunkanbacaan adzan dan iqomat ditelingamu, agar kalimat yang pertama kali kaudengar adalah kalimat Tauhid yang harus kau yakini dan kau taati selamahidupmu.
Saat pertama kali kau isap air susu Ibu, Ibu merasakankenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Ibu ingin memberikansemuanya kepadamu, agar kau segera tumbuh besar dan sehat. Ibu berupayasupaya ASI ini dapat mencukupi kebutuhanmu. Ibu berupaya untuk selaludekat denganmu, dan selalu mengajakmu kemanapun Ibu pergi, supayakapanpun kau lapar, Ibu selalu siaga memberikan air surgawi karuniaIlahi itu kepadamu.
Ibu berusaha untuk selalu siap siaga menjagamu,kapanpun dan dalam keadaan apapun. Saat malam sedang tidur lelap, Ibuakan terjaga bila kau tiba-tiba menangis karena popokmu basah ataukarena kau lapar. Saat sedang makan dan kau buang air besar, Ibu denganrela menghentikan makan dan mengganti popokmu dulu. Dan semuanya, Ibulakukan dengan senang hati, tanpa rasa risih dan jijik.
Sejak kaumasih dalam ayunan, Ibu senantiasa membacakan do'a dalam setiapkegiatan yang akan kau lakukan. Ibu bacakan do'a mau makan ketika kauhendak makan, do'a mau tidur ketika kau mau tidur, dan do'a apa sajayang harus kau tahu dan kau amalkan dalam kehidupan keseharianmu. Ibubacakan selalu ayat kursi dan surat-surat pendek satu persatu setiapmalam, dikala mengantarmu tidur, ayat-per ayat dan Ibu ulangberkali-kali hingga kau sanggup mengingatnya dengan baik, denganharapan kau besar nanti menjadi penghafal Al Qu'ran.
Ketika kausudah mampu berbicara, subhanallah, tanpa kami duga, kau telah hafalberbagai macam do'a dan beberapa surat pendek. Ibu bersyukur dan banggakepadamu. Muncul harapan dalam hati ini, kelak kau tumbuh menjadi anakyang pintar dan rajin belajar.
Tatkala kau mulai belajar sholat, danusai sholat kau lantunkan do'a untuk orang tua, walau dengan bacaanyang masih belum sempurna, bercucur air mata ibu karena kau telah mampumelafalkan do'a itu. Timbul harapan dihati yang paling dalam, kelakhingga ketika Ibu dan Ayah tiada, kau tetap melantunkan do'a itu,karena do'amu akan memberikan kepada Ibu dan Ayah pahala yang takhenti-hentinya di yaumil-akhir. Kaulah asset masa depan bagi umi danabi. Kau akan mampu menolong umi dan abi di yaumil-akhir nanti, bilakau menjadi anak yang sholihah.
Nak, kehadiranmupun memberikan kepada Ibu dan Ayah pelajaran yang sangat berharga, kau mengingatkan kami
tatkalamasih sepertimu. Mengingatkan dengan lebih kuat lagi, betapa besarpengorbanan yang dilakukan oleh kakek nenekmu kepada kami, hingga Ibudan Ayah tumbuh dewasa dan bahkan sampai menjadi orang tua sepertimereka.
Ibu dan Ayah sangat menyayangimu, karena kami ingin kaupunmenjadi anak yang penyayang terhadap sesama. Kami hampir selalumenyertakan kata sayang dibelakang namamu saat memanggilmu, supayahatimu senang dan gembira bersama Ibu dan Ayahi.
Saat kau memasukiusia sekolah, Kami carikan sekolah yang baik untukmu. Sekolah yangmemiliki visi pendidikan seperti yang Ibu dan Ayah inginkan.Alhamdulillaah, saat kau mulai sekolah, telah banyak berdirisekolah-sekolah Islam Terpadu, sehingga kami tidak kesulitan mencarikansekolah untukmu. Ayah mengantarmu ke sekolah setiap pagi dan Ibumendampingimu selalu hingga kau berani ditinggal di sekolah sendiri.
Keperluansekolahmu selalu kami upayakan, walau kadang harus dengan susah payah,agar kau bisa memperoleh pendidikan yang baik dan layak untukkehidupanmu dimasa yang akan datang. Kami senantiasa berupayamembimbingmu untuk dapat melakukan segala sesuatu, agar saat besarnanti kau mampu melayani dirimu sendiri.
Bila Ibu dan Ayah tidak maumelayanimu untuk hal-hal yang sudah dapat kau lakukan sendiri, itubukan berarti kami tidak menyayangimu, tapi justru sebaliknya. KarenaIbu dan Ayah sayang sekali padamu, kau tidak boleh terlalu dimanjakan,hingga saat kau besar nanti, kau jadi anak yang mandiri dan serba bisa.
MaafkanIbu dan Ayah bila sekali waktu (atau bahkan sering) memarahimu ketikakau membuat kesalahan yang berulang-ulang. Sungguh, sebenarnya Ibu danAyah tak ingin memarahimu, namun kamipun sadar bahwa kau harus tahu danharus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, agar saatkau dewasa dan telah bergaul dengan masyarakat umum nanti, kau bisamemilih untuk selalu melakukan yang haq dan meninggalkan yang bathil.Semoga kau tidak salah sangka.
Maafkan pula bila Ibu dan Ayah selalumembatasi tontonan dan bacaanmu, karena dewasa ini sangat banyak mediayang dapat merusak pendidikan yang sudah kami terapkan kepadamu. Itusemua kami lakukan, agar kau terpelihara dari hal-hal negatif yang akanmendangkalkan akhlaq dan perilakumu. Ibu dan Ayah ingin, kau menjadianak yang faqih dalam hal agama, menjadi generasi Qur'ani, dan menjadipenerus dakwah Ilallaah.
Inilah harapan Ibu dan Ayah kepadamu,sangat banyak dan sangat ideal. Oleh karenanya, kami senantiasa memohonpetunjuk dan bimbingan dari Allah Yang Esa, yang Berkuasa dan MahaAgung, agar tidak salah langkah dalam mendidikmu.
Robbanaa hablanaamin azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a'yun waj'alnaa lilmuttaqiinaimaaman. Amiin (Ummu Shofi/ari_aji_astuti@yahoo.com)

Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/146_511_2007_10

Re: kisah ungkapan hati seorang ibu terhadap anaknya
Oleh hendra ( 04 Oktober 2007 11:31:58 )
mana? katanya bagus?
Re: kisah ungkapan hati seorang ibu terhadap anaknya
Oleh betty ( 04 Oktober 2007 12:37:19 )
wah...sangat menyentuh sekali kata-katamu...?

Komentar

Judul
Nama Anda
Website



Masukkan kode verifikasi
Profile

Kalender
9 <2007/10> 11
SunMonTueWedThuFriSat
 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31    

Kategori

Artikel

Komentar

Trackback